Rabu, 11 Juli 2018

Kajian Pragmatik, Etnografi Komunikasi dan Kajian Analisis Variasi

Kajian Pragmatik, Etnografi Komunikasi dan Kajian Analisis Variasi
                Wacana memiliki unsur pendukung yang sangat lengkap dan kompleks.Unsur tersebut terdiri atas unsur verbal (linguistik) dan unsur nonverbal (nonlinguistik).Struktur linguistik wacana merupakan satuan lingual tertinggi dan terlengkap dalam hirarki kebahasaan. Sementara, unsur non linguistik yang melingkupinya mengandung sejumlah besar pengetahuan dan informasi tak terbatas.Hal ini mengisyaratkan, bahwa wacana adalah aspek kajian yang luas, dan bersifat kontekstual.Kajian wacana berkaitan dengan pemahaman tentang tindakan manusia yang dilakukan dengan bahasa (verbal) dan bukan bahasa (nonverbal).Hal ini menunjukkan, bahwa untuk memahami wacana dengan baik dan tepat, diperlukan bekal pengetahuan kebahasaan, dan bukan kebahasaan (umum).Berdasarkan kenyataan tersebut, wacana membutuhkan seperangkat pengetahuan yang luas, mendalam dan memadai. kajian wacana merupakan suatu piranti yang digunakan untuk proses penyelidikan atau mengkaji satuan bahasa terlengkap dalam hierarki gramatikal. Objek kajian wacana dengan pendekatan ini adalah aspek pragmatik yang terdapat dalam sebuah wacana. Misalnya memotret dan memahami (1) prinsip dan maksim kesantunan penuturan wacana, (2) prinsip maksim kerjasama penuturan wacana, (3) prinsip dan maksim kelakar dalam wacana humor, (4) prinsip dan maksim persuasif dalam wacana pariwara, (5) prinsip dan maksim tutur dalam wacana peradilan, (6) prinsip dan maksim tutur dalam wacana negosiasi,  (7) prinsip dan maksim tutur dalam wacana debat, (8) nilai kesantunan yang terdapat dalam wacana, dan sebagainya.
                  Etnografi komunikasi sendiri menunjukkan cakupan kajian berlandaskan etnografi dan komunikasi. Cakupan kajian tidak dapat dipisah-pisahkan, misalnya hanya mengambil hasil-hasil kajian dari linguistik, psikologi, sosiologi, etnologi, lalu menghubung-hubungkannya.Fokus kajiannya hendaknya meneliti secara langsung terhadap penggunaan bahasa dalam konteks situasi tertentu, sehingga dapat mengamati dengan jelas pola-pola aktivitas tutur, dan kajiannya diupayakan tidak terlepas (secara terpisah-pisah), misalnya tentang gramatika (seperti dilakukan oleh linguis), tentang kepribadian (seperti psikologi), tentang struktur sosial (seperti sosiologi), tentang religi (seperti etnologi), dan sebagainya.Dalam kaitan dengan landasan itu, seorang peneliti tidak dapat membentuk bahasa, atau bahkan tutur, sebagai kerangka acuan yang sempit.Peneliti harus mengambil konteks suatu komunitas (community), atau jaringan orang-orang, lalu meneliti kegiatan komunikasinya secara menyeluruh, sehingga tiap penggunaan saluran atau kode komunikasi selalu merupakan bagian dari khasanah komunitas yang diambil oleh para penutur ketika dibutuhkan. kajian etnografi terhadap wacana diperlukan untuk menemukan dan menganalisis struktur-struktur dan fungsi-fungsi dari komunikasi yang mengatur penggunaan bahasa dalam situasi tutur, peristiwa tutur, dan tindak tutur. Kajian etnografi ini memacu atau meneliti pada budaya ataupun gaya bahasa. Contoh: gaya bahasa komunitas, gaya bahasa adat, perbedaan buadaya adat.
               Tindak tutur atau tindak ujar (speech act) merupakan entitas yang bersifat sentral dalam pragmatik sehingga bersifat pokok di dalam pragmatik. Tindak tutur merupakan dasar bagi nanalisis topik-topik pragmatik lain seperti praanggapan, perikutan, implikatur percakapan, prinsip kerja sama, dan prinsip kesantunanTindak tutur yang dilangsungkan dengan kalimat performatif . dirumuskan sebagai empat peristiwa tindakan yang berlangsung sekaligus, yaitu:
1.      Tindak tutur lokusi, yakni tindak tutur yang menyatakan sesuatu dalam arti “berkata” atau tindak tutur dalam bentuk kalimat yang bermakna dan dapat dipahami (pernyataan). Misalnya, “Ibu berkata kepada saya agar saya membantunya”.
2.      Tindak tutur ilokusi, adalah tindak tutur yang biasanya diidentifikasikan dengan kalimat performatif yang eksplisit. Tindak tutur ilokusi biasanya berkenaan dengan pemberian izin, mengucapkan terima kasih, menyuruh, menawarkan, dan menjanjikan.Misalnya “Ibu menyuruh saya agar segera berangkat”.Kalau tindak tutur ilokusi hanya berkaitan dengan makna, maka makna tindak tutur ilokusi berkaitan dengan nilai, yang dibawakan oleh preposisinya.
3.      Tindak tutur perlokusi, adalah tindak tutur yang berkenaan dengan adanya ucapan orang lain sehubungan dengan sikap dan perilaku nonlinguistic dari orang lain itu. Misalnya, karena adanya ucapan dokter (kepada pasiennya) “Mungkin ibu menderita penyakit jantung koroner”, maka si pasien akan panik dan sedih.
4.      Tindak tutur ilokusi adalah tindak tutur yang biasanya diidentifikasikan dengan kalimat performatif yang eksplisit.Menurut pendapat Austin ilokusi adalah tindak melakukan sesuatu.Ilokusi merupakan tindak tutur yang mengandung maksud dan fungsi atau daya tuturan. Bagi Austin, tujuan penutur dalam bertutur bukan hanya untuk memproduksi kalimat-kalimat yang memiliki pengertian dan acuan tertentu. Bahkan tujuannya adalah untuk menghasilkan kalimat-kalimat yang memberikan konstribusi jenis gerakan interaksional tertentu pada komunikasi.Tindak tutur ilokusi ini biasanya berkenaan dengan pemberian izin, mengucapkan terima kasih, menyuruh, menawarkan, dan menjanjikan.
                sosiolinguistik interaksional ini adalah pandangan atau lebih tepatnya sebuah kontribusi dari dua tokoh yang akhirnya bisa mengembangkan masalah sosiolinguistik interaksional. Memberikan sebuah ancangan wacana yang berfokus pada peletakan makna atau penempatan makna dan untuk mendeskripsikan dan memahami bentuk dan makna untuk konteks sosial dan interpersonal yang memberikan praduga untuk interpretasi makna. Mencoba menemukan penempatan makna dan mencari bagaimana makna tersebut memberi kontribusi ke arah proses dan pemerolehan interaksi.
                 Kajian wacana memiliki manfaat yang besar apabila dikaitkan dengan koteks Indonesia yang beraneka ragam kultur dan budayanya. Manfaat tersebut antara lain sebagai berikut: 1). Membantu masyarakat memahami berbagai permasalahan yang terjadi sekaligus mencari solusinya. 2) Sebagai bahan pertimbangan untuk menentukan langkah yang akan diambil setelah melihat fakta yang berkembang di masyarakat. 3) Kajian wacana dapat mengungkap berbagai fakta, idealisme yang tersirat dalam sebuah wacana guna mengetahui maksud dan tujuan penulis wacana tersebut. 4) Membongkar nilai-nilai yang terkandung dalam sebuah wacana. Nilai-nilai ini tentu adalah nilai-nilai kebenaran yang sebenarnya, bukan sekedar kamuflase permainan bahasa. Masyarakat akan dituntun untuk memilah mana nilai yang baik dan mana yang tidak  sekaligus mendukung nilai-nilai yang baik tersebut agar tumbuh subur dalam budaya masyarakat, misalnya nilai kerukunan, kebersamaan, toleransi, dan lain sebagainya
Kajian Pragmatik, Etnografi Komunikasi dan Kajian Analisis Variasi
                Wacana memiliki unsur pendukung yang sangat lengkap dan kompleks.Unsur tersebut terdiri atas unsur verbal (linguistik) dan unsur nonverbal (nonlinguistik).Struktur linguistik wacana merupakan satuan lingual tertinggi dan terlengkap dalam hirarki kebahasaan. Sementara, unsur non linguistik yang melingkupinya mengandung sejumlah besar pengetahuan dan informasi tak terbatas.Hal ini mengisyaratkan, bahwa wacana adalah aspek kajian yang luas, dan bersifat kontekstual.Kajian wacana berkaitan dengan pemahaman tentang tindakan manusia yang dilakukan dengan bahasa (verbal) dan bukan bahasa (nonverbal).Hal ini menunjukkan, bahwa untuk memahami wacana dengan baik dan tepat, diperlukan bekal pengetahuan kebahasaan, dan bukan kebahasaan (umum).Berdasarkan kenyataan tersebut, wacana membutuhkan seperangkat pengetahuan yang luas, mendalam dan memadai. kajian wacana merupakan suatu piranti yang digunakan untuk proses penyelidikan atau mengkaji satuan bahasa terlengkap dalam hierarki gramatikal. Objek kajian wacana dengan pendekatan ini adalah aspek pragmatik yang terdapat dalam sebuah wacana. Misalnya memotret dan memahami (1) prinsip dan maksim kesantunan penuturan wacana, (2) prinsip maksim kerjasama penuturan wacana, (3) prinsip dan maksim kelakar dalam wacana humor, (4) prinsip dan maksim persuasif dalam wacana pariwara, (5) prinsip dan maksim tutur dalam wacana peradilan, (6) prinsip dan maksim tutur dalam wacana negosiasi,  (7) prinsip dan maksim tutur dalam wacana debat, (8) nilai kesantunan yang terdapat dalam wacana, dan sebagainya.
                  Etnografi komunikasi sendiri menunjukkan cakupan kajian berlandaskan etnografi dan komunikasi. Cakupan kajian tidak dapat dipisah-pisahkan, misalnya hanya mengambil hasil-hasil kajian dari linguistik, psikologi, sosiologi, etnologi, lalu menghubung-hubungkannya.Fokus kajiannya hendaknya meneliti secara langsung terhadap penggunaan bahasa dalam konteks situasi tertentu, sehingga dapat mengamati dengan jelas pola-pola aktivitas tutur, dan kajiannya diupayakan tidak terlepas (secara terpisah-pisah), misalnya tentang gramatika (seperti dilakukan oleh linguis), tentang kepribadian (seperti psikologi), tentang struktur sosial (seperti sosiologi), tentang religi (seperti etnologi), dan sebagainya.Dalam kaitan dengan landasan itu, seorang peneliti tidak dapat membentuk bahasa, atau bahkan tutur, sebagai kerangka acuan yang sempit.Peneliti harus mengambil konteks suatu komunitas (community), atau jaringan orang-orang, lalu meneliti kegiatan komunikasinya secara menyeluruh, sehingga tiap penggunaan saluran atau kode komunikasi selalu merupakan bagian dari khasanah komunitas yang diambil oleh para penutur ketika dibutuhkan. kajian etnografi terhadap wacana diperlukan untuk menemukan dan menganalisis struktur-struktur dan fungsi-fungsi dari komunikasi yang mengatur penggunaan bahasa dalam situasi tutur, peristiwa tutur, dan tindak tutur. Kajian etnografi ini memacu atau meneliti pada budaya ataupun gaya bahasa. Contoh: gaya bahasa komunitas, gaya bahasa adat, perbedaan buadaya adat.
               Tindak tutur atau tindak ujar (speech act) merupakan entitas yang bersifat sentral dalam pragmatik sehingga bersifat pokok di dalam pragmatik. Tindak tutur merupakan dasar bagi nanalisis topik-topik pragmatik lain seperti praanggapan, perikutan, implikatur percakapan, prinsip kerja sama, dan prinsip kesantunanTindak tutur yang dilangsungkan dengan kalimat performatif . dirumuskan sebagai empat peristiwa tindakan yang berlangsung sekaligus, yaitu:
1.      Tindak tutur lokusi, yakni tindak tutur yang menyatakan sesuatu dalam arti “berkata” atau tindak tutur dalam bentuk kalimat yang bermakna dan dapat dipahami (pernyataan). Misalnya, “Ibu berkata kepada saya agar saya membantunya”.
2.      Tindak tutur ilokusi, adalah tindak tutur yang biasanya diidentifikasikan dengan kalimat performatif yang eksplisit. Tindak tutur ilokusi biasanya berkenaan dengan pemberian izin, mengucapkan terima kasih, menyuruh, menawarkan, dan menjanjikan.Misalnya “Ibu menyuruh saya agar segera berangkat”.Kalau tindak tutur ilokusi hanya berkaitan dengan makna, maka makna tindak tutur ilokusi berkaitan dengan nilai, yang dibawakan oleh preposisinya.
3.      Tindak tutur perlokusi, adalah tindak tutur yang berkenaan dengan adanya ucapan orang lain sehubungan dengan sikap dan perilaku nonlinguistic dari orang lain itu. Misalnya, karena adanya ucapan dokter (kepada pasiennya) “Mungkin ibu menderita penyakit jantung koroner”, maka si pasien akan panik dan sedih.
4.      Tindak tutur ilokusi adalah tindak tutur yang biasanya diidentifikasikan dengan kalimat performatif yang eksplisit.Menurut pendapat Austin ilokusi adalah tindak melakukan sesuatu.Ilokusi merupakan tindak tutur yang mengandung maksud dan fungsi atau daya tuturan. Bagi Austin, tujuan penutur dalam bertutur bukan hanya untuk memproduksi kalimat-kalimat yang memiliki pengertian dan acuan tertentu. Bahkan tujuannya adalah untuk menghasilkan kalimat-kalimat yang memberikan konstribusi jenis gerakan interaksional tertentu pada komunikasi.Tindak tutur ilokusi ini biasanya berkenaan dengan pemberian izin, mengucapkan terima kasih, menyuruh, menawarkan, dan menjanjikan.
                sosiolinguistik interaksional ini adalah pandangan atau lebih tepatnya sebuah kontribusi dari dua tokoh yang akhirnya bisa mengembangkan masalah sosiolinguistik interaksional. Memberikan sebuah ancangan wacana yang berfokus pada peletakan makna atau penempatan makna dan untuk mendeskripsikan dan memahami bentuk dan makna untuk konteks sosial dan interpersonal yang memberikan praduga untuk interpretasi makna. Mencoba menemukan penempatan makna dan mencari bagaimana makna tersebut memberi kontribusi ke arah proses dan pemerolehan interaksi.
                 Kajian wacana memiliki manfaat yang besar apabila dikaitkan dengan koteks Indonesia yang beraneka ragam kultur dan budayanya. Manfaat tersebut antara lain sebagai berikut: 1). Membantu masyarakat memahami berbagai permasalahan yang terjadi sekaligus mencari solusinya. 2) Sebagai bahan pertimbangan untuk menentukan langkah yang akan diambil setelah melihat fakta yang berkembang di masyarakat. 3) Kajian wacana dapat mengungkap berbagai fakta, idealisme yang tersirat dalam sebuah wacana guna mengetahui maksud dan tujuan penulis wacana tersebut. 4) Membongkar nilai-nilai yang terkandung dalam sebuah wacana. Nilai-nilai ini tentu adalah nilai-nilai kebenaran yang sebenarnya, bukan sekedar kamuflase permainan bahasa. Masyarakat akan dituntun untuk memilah mana nilai yang baik dan mana yang tidak  sekaligus mendukung nilai-nilai yang baik tersebut agar tumbuh subur dalam budaya masyarakat, misalnya nilai kerukunan, kebersamaan, toleransi, dan lain sebagainya

Hakikat Teks, Koteks, dan Konteks

Hakikat Teks, Koteks, dan Konteks

Melalui wacana manusia dapat saling menyapa, menegur, meminta, memohon, menyetujui, menyepakati, bertanya, meminta keterangan, meyakinkan, mengeritik mengomentari, dan lain sebagainya. Kajian wacana memiliki unsur pendukung yang sangat kompleks. Unsur tersebut terdiriatas unsur verbal (linguistik) dan unsur nonverbal (nonlinguistik). Struktur linguistik wacana merupakan satuan lingual tertinggi dalam hirarki kebahasaan. Sementara itu, unsur nonlinguistik yang melingkupinya mengandung pengetahuan dan informasi tak terbatas. Hal ini menunjukkan bahwa kajian secara struktural wacana adalah aspek kajian yang sangat luas, artinya kebahasaan yang lebih besar dari pada kalimat dan klausa dan mempunyai hubungan antara unit kebahasaan yang satu dengan yang lain. Atau dengan kata lain, kajian wacana merupakan satuan bahasa yang kompleks dalam hirarki gramatikal tertinggi atau terbesar. Wacana ini direalisasikan dalam bentuk wacana yang utuh. Adapun unsur-unsur yang terkait dengan kajian wacana ini di antaranya, yaitu teks, ko-teks, dan konteks

           Teks merupakan ungkapan berupa bahasa yang di dalamnya terdiri dari satu kesatuan antar isi, bentuk, dan situasi kondisi penggunaannya. Teks dalam hal ini tidak hanya dipandang dari sisi tata bahasa yang sifatnya tertulis atau unsur-unsur kebahasan yang dituliskan, lebih dari itu, suatu teks juga dilihat dari segi maksud dan makna yang diujarankan. Teks memiliki kesatuan dan kepaduan antara isi yang ingin disampaikan dengan bentuk ujaran, dan situasi kondisi yang ada.
          Shiffrin Debora (. 570) Teks sebagai isi linguistik dari tuturan-tuturan, arti semantik tetapnya pada kata-kata, ekspresi, dan kalimat, tetapi bukan inferensi (pemahamanya) yang tersedia pada mitra tutur yang bergantung pada konteks dimana kata-kata, ekspresi, dan kalimat itu digunakan. Teks memberikan (sesuatu yang dinamakan) bagian tuturan, konteks menyatu dengan “ apa yang dikatakan (ungkapan)” untuk menciptakan suatu tuturan. Meskipun semua ancangan terhadap wacana yang telah kami bahas berkenaan dengan bahasa dan dengan tuturan tidak semua ancangan secara eksplisit berkenaan dengan teks dan tuturan. Kridalaksana (2011:238) dalam Kamus Linguistiknya menyatakan bahwa teks adalah (1) satuan bahasa terlengkap yang bersifat abstrak, (2) deretan kalimat, kata, dan sebagainya yang membentuk ujaran, (3)  ujaran yang dihasilkan dalam interaksi manusia. Dapat di simpulkan bahwa teks adalah satuan bahasa yang bisa berupa bahasa tulis dan bisa juga berupa bahasa lisan yang dahasilkan dari interaksi atau komunikasi manusia.

        Wacana dan teks merupakan dua hal yang sama dan ada juga yang menganggap berbeda, hal itu disebabkan oleh adanya sudut pandang yang berbeda. Situasi ini sangat bergantung dengan realisasi penggunaan bahasa. Sebuah wacana, misalnya suatu percakapan jika dikaji prosesnya, maka wacana merupakan proses komunikasi antara pembicara dengan mitra tutur yang menghasilkan interpretasi. Tetapi, jika dipandang dari segi produk maka wacana itu dapat berupa teks sebagai produk bahasa yang menghasilkan makna, sehingga wacana itu dibedakan dengan teks.
          Keberadaan koteks dalam suatu wacana menunjukkan bahwa struktur suatu teks memiliki hubungan dengan teks lainnya. Hal itulah yang membuat suatu wacana menjadi utuh dan lengkap. Koteks dapat menjadi alat bantu untuk menganalisis wacana. Koteks merupakan teks yang bersifat sejajar, koordinatif, dan memiliki hubungan dengan teks lainnya, teks satu memiliki hubungan dengan teks lainnya.

          Kridalaksana (2011:137), koteks diartikan sebagai kalimat atau unsur-unsur yang mendahului dan/atau mengikuti sebuah unsur lain dalam wacana. Koteks merupakan teks yang mendampingi teks lain dan mempunyai keterkaitan dan kesejajaran.

           Konteks sebagai “pengetahuan” dan mereka juga memasukkan “pengetahuan situasi”, namun  ancangan ini mengusulkan kerangka kerja dan konstruk melalui analisis “situasi” sebagai bagian dari “pengetahuan”. Konteks adalah suatu aspek yang berkaitan dengan ujaran yang di anggap sebagai alasan dalam terjadinya pembicaraan dan berhubungan langsung dengan tuturan.

            Mulyana (2005: 21) yang mengartikan konteks ialah sesuatu yang dianggap sebagai sebab atau alasan terjadinya suatu pembicaraan. Segala sesuatu yang berhubungan dengan tuturan, apakah itu berkaitan dengan arti, maksud, maupun informasinya, sangat tergantung pada konteks yang melatarbelakangi peristiwa tuturan itu.
           Kridalaksana (2011:134) mengartikan konteks adalah (1) aspek-aspek lingkungan fisik atau sosial yang kait mengait dengan ujaran tertentu, (2) pengetahuan yang sama-sama memiliki pembicara dan pendengar sehingga pendengar paham apa yang dimaksud pembicara.

konteks terjadinya suatu percakapan (wacana) menunjukkan bahwa konteks memegang peranan penting dalam memerikan bantuan untuk menafsirkan suatu wacana serta ruang dan waktu yang spesifik yang dihadapi seseorang atau kelompok orang.

            Hubungan antara teks, koteks, dan konteks sangat berkaitan. Hal tersebut dapat dilihat dari segi hakikat yang telah di bahas pada bahasa di atas, yakni bahwa teks adalah satuan bahasa yang terlengkap yang di dalamnya terdapat topik serta bersifat kohesi dan koherensi. teks bisa berupa bahasa tulis maupun berupa bahasa lisan (tutur). Sedangkan koteks merupakan unsur yang memiliki keterkaitan dan kedudukannya sejajar dengan teks yang didampinginya. Koteks dapat mendahului maupun membelakangi teks. Dan kemudian konteks merupakan aspek-aspek yang saling berkaitan dengan ujaran tertentu sehingga timbul sebuah pembicaraan. Aspek tersebut bisa berupa konteks secara situasi maupun pengetahuan.

         teks adalah suatu kesatuan bahasa baik lisan maupun tulisan yang memiliki isi dan bentuk yang saling berkaitan. Koteks diartikan sebagai kalimat atau unsur-unsur yang mempunyai keterkaitan dan kesejajaran dengan teks yang didampinginya (teks lain). Konteks adalah ruang dan waktu yang meliputi lingkungan fisik dan sosial tertentu dalam memahami suatu teks, yaitu kejadian-kejadian nonverbal atau keseluruhan lingkungan teks itu. Contoh: Mata Kuliah Semantik merupakan mata kuliah yang wajib ditempuh dalam program studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. mata kuliah ini, membahas tentang makna pembentukan kalimat. Dan selamat menempuh hidup baru.
Sumber : Shiffrin, Debora. 2007.Ancangan Kajian Wacana. (Terjemahan Unang, dkk) Yogyakarta: Pustaka Belajar. (Buku asli terbit tahun 1994).

Prasarat wacana

Prasarat Wacana
PENDAHULUAN
          Wacana yang ideal mengandung seperangkat proposisi yang paling berhubungan untuk menghasilkan rasa kepaduan atau kohesi. Selain itu dibutuhkan juga keteraturan atau kerapian susunan yang menimbulkan rasa koherensi. Kohesi dan koherensi merupakan factor yang penting dalam peningkatan mutu wacana dan terdapat topik,proporsional serta tuturan.
          Wacana mempunyai bentuk dan makna. Kepaduan makna dan kerapian bentuk merupakan factor penting untuk menentukan keterbacaan dan keterpahaman wacana. Kepaduan (kohesi) dan kerapian (koherensi) merupakan unsur hakikat wacana,unsur yang turut menentukan keutuhan wacana.

LANDASAN TEORI
          Wacana adalah kesatuan makna (semantis) antara bagian di dalam suatu bangun bahasa. Dengan kesatuan makna, wacana dilihat sebagai bangun bahasa yang utuh karena setiap bagian di dalam wacana itu berhubungan secara padu. Dalam wacana haruslah ada koherensi dan kohesi dari awal sampai akhir. Namun terbentuknya wacana tidak cukup hanya dengan hoherensi dan kohesi. Alwi, dkk. (1998:419) yang mengatakan bahwa wacana adalah rentetan kalimat yang berkaitan yang menghubungkan proposisi yang satu dengan proposisi yang lain dan membentuk kesatuan. Kohesi dan koherensi juga merupakan syarat terbentuknya suatu wacana selain syarat lain, yaitu topik. Koherensi tidak harus selalu dicapai dengan bantuan kohesi. Sedangkan menurut Widowson (1978:22) wacana mempunyai dua hal penting, yaitu proposisi (sejajar dengan topik) dan tindak tutur (tuturan pengungkap topik).
Kohesi 
           Wacana terdiri atas kalimat-kalimat dan kohesi merupakan aspek formal bahasa dalam wacana. Kohesi merupakan organisasi sintaktik,merupakan wadah kalimat-kalimat disusun secara padu dan padat untuk menghasilkan tuturan. Artinya bahwa kohesi adalah hubungan antar kalimat dalam sebuah wacana,baik dalam strata gramatikal maupun dalam strata leksikal tertentu (Gutwisky,1976:26). Hubungan kohesi seperti unsur dalam wacana dapat di interpretasikan, sesuai dengan ketergantungannya dengan unsur-unsur lainnya. Kohesi wacana terbagi dalam dua aspek yaitu kohesi gramatikal dan kohesi leksikal. Kohesi gramatikal artinya kepaduan bentuk sesuai dengan tata bahasa. Kohesi leksikal artinya kepaduan bentuk sesuai dengan kata.
Kohesi gramatikal meliputi: 
Referensi (pengacuan), merupakan pengacuan satuan lingual tertentu terhadap satuan lainnya.
Substitusi ( penggantian), diartikan sebagai penggantian satuan lingual dengan satuan lingual lain dalam wacana untuk  memperoleh unsur pembeda.
Elipsis atau pelesapan, adalah pelesapan satuan lingual tertentu yang sudah disebutkan sebelumnya.
Konjungsi (perangkaian), adalah kohesi gramatikal yang dilakukan dengan menghubungkan unsure yang satu dengan unsur yang lain.
Kohesi leksikal meliputi:
Repetisi 
Sinonimi
Antonim
Hiponim
Kolokasi

Koherensi 
             Koherensi merupakan pengaturan secara rapi kenyataan dan gagasan,fakta dan ide menjadi suatu untaian yang logis sehingga kita mudah memahami pesan yang dikandungnya (Wohl,1978:25). Wacana ideal terdiri atas kalimat-kalimat, bahkan paragraf-paragraf dan untuk mencapai kekoherensifan.
Penambahan
Repetisi atau pengulangan
Pronomina
Sinonimi
Totalitas Bagian
Komparasi 
Penekanan
Kontras
Simpulan
Paralelisme atau kesejajaran. 
Waktu 

Topik
       Wacana yang mengungkapkan satu bahasan atau gagasan yang diurai, membentuk serangkaian penjelasan tetapi tetap merujuk pada satu topik. Sehingga topik yang diangkat atau yang dimaksud memberikan suatu tujuan. Tujuan-tujuan yang teradapat dalam wacana, dapat dikelompokkan menjadi beberapa jenis wacana. Seperti wacana persuasif, tujuannya untuk mempengaruhi pembaca. Atau bisa berupa simbol huruf P pada rambu-rambu lalu lintas, memberikan tujuan menginformasikan pengguna jalan, 
Proporsional
       Prosorsional ialah keseimbangan dalam makna yang ingin dijabarkan dalam wacana, atau makna yang terdapat dalam wacana. Misalnya apabila sebuah wacana persuasif, terdapat kesinambungan yang tepat antara paragraf yang satu dengan yang lain. Apabila paragraf pertama terdapat beberapa tuturan yang mempengaruhi pembaca dengan satu topik, maka paragraf kedua juga harus tetap meruju pada satu topik dan dimungkinkan lebih merujuk pada hal yang khusus. Sehingga antara paragraf yang satu dengan yang lain padu dan tidak membingungkn pembaca dan seimbang serta saling berhubungan.
Tuturan 
        Tuturan  adalah pengungkapan suatu topik yang ada dalam wacana. Baik tutur tulis atau tutur lisan. tuturan kaitannya menjelaskan suatu topik yang terdapat dalam wacana dengan tetap adanya kohesi dan koherensi yang proporsional di dalamnya.

PENUTUP
         Wacana mempunyai bentuk dan makna. Kepaduan makna dan kerapian bentuk merupakan factor penting untuk menentukan keterbacaan dan keterpahaman wacana. Kepaduan (kohesi) dan kerapian (koherensi) merupakan unsur hakikat wacana,unsur yang turut menentukan keutuhan wacana.

CONTOH
Contoh Kohesi:
             Kabupaten jember merupakan salah satu wilayah yang ada di propinsi jawa timur yang penduduknya mayoritas terdiri dari suku jawa dan suku madura. Dalam kondisi yang demikian, masyarakat kabupaten jember dapat di  golongkan kedalam masyarakat campuran. Hal ini akan membawa dampa pada kondisi kebahasaannya. Paling tidak masyarakat jember tergolong pada dwibahasawan ( menguasai dua bahasa) atau bahkan multibahasawan ( menguasi lebih dari dua bahasa). Contohnya adalah menguasai bahasa jawa (bahasa daerah), bahasa madura (bahasa daeraha), dan bahasa indonesia (bahasa standar nasional indonesia)

Contoh Koherensi:
            Kalimat yang tertuang pada pasal 36 Bab XVI Undang-Undang Dasar 1945 berbunyi bahasa negara adalah bahasa indonesia. Dalam kedudukannya sebagai bahasa negara tersebut, bahasa indonesia berfungsi sebagai bahasa resmi kenegaraan, sebagai bahasa pengantar disekolah, sebagai bahasa dalam menjalankan administrasi pemerintahan, sebagai alat penghubung tingkat nasional, serta sebagai bahasa pendukung ilmu pengetahuan. Selain itu bahasa indonesia juga sebagai bahasa nasional, yaitu bahasa kesatuan dalam politik, sosial, budaya. Berdasarkan hal itu dapat disimpulkan bahwa itulah kedudukan dan fungsi bahasa indonseia.
Sumber : Tarigan, Henry, Guntur. Pengajaran Wacana.2009.Bandung:Angkasa
Hakikat Wacana dan Kedudukan Wacana dalam Linguistik

PENDAHULUAN
         Seringkali dalam berkomunikasi, membaca, atau bercakap-cakap ada topik atau hal yang dibicarakan. Entah itu topik yang serius atau hanya topik pembicaraan biasa. Dalam pembicaraan tersebut menggunakan kalimat yang baik dan benar namun terkadang menggunakan kalimat tidak baku, tergantung pada suasana pembicaraannya
        Kenyataannya wacana sangat dibutuhkan dalam kehidupan sehari-hari, dan tidak bisa lepas dari wacana. Saat berbicara, membaca berita, berinteraksi, dan pekerjaan apapun menggunakan wacana. Wacana adalah satuan bahasa yang utuh dan mencakup satu kesatuan yang saling berhubungan secara padu, baik berupa wacana lisan maupun tulisan. Untuk memahami devinisi wacana dan kedudukan wacana dalam linguistik. 
LANDASAN TEORI
Devinisi Wacana
Menurut Tarigan (2009:20) menjelaskan bahwa wacana adalah satuan bahasa yang terlengkap dan berbesar/tertinggi di atas kalimat dan klausa dengan koherensi dan kohesi yang berkesinambungan yang mempunyai awal dan akhir yang nyata disampaikan secara lisan atau tulisan. Wacana di katakana lengkap seperti wacana bahasa Indonesia yang terdapat tema,pokok pikiran,gagasan,dan amanat. Dan wacana terdiri satu kalimat atau lebihserta ada awalan dan akhiran yang jelas.
Menurut Chaer (2007:265) menyebutkan bahwa wacana adalah satuan bahasa yang lengkap, sehingga dalam hirarki bahasa merupakan satuan gramatikal tertinggi atau terbesar. Wacana sebagai satuan gramatikal yang lengkap, harus terdapat konsep, gagasan, pikiran, dan ide yang utuh, yang akan dipahami oleh pembaca dalam bentuk wacana lisan dan oleh pendengar dalam bentuk wacana lisan
Wacana dapat diklasifikasikan dengan berbagai cara berdasarkan sudut pandang, berdasarkan media,berdasarkan pengungkapan, berdasarkan pemaparan, berdasarkan bentuk. Kita mengenal jenis wacana yaitu : wacanatulis, wacana lisan, wacana langsung, wacana tidak langsung, wacana pembeberan,wacana penuturan, wacana prosa, wacana puisi, wacana drama. Tujuan wacana yaitu : mendeskripsikan teks, dan menciptakan teori wacana, memudahkan, memahami, memanfaatkan teks atau kelompok teks. 

Wacana menjadi bagian hirarki kebahasaan yang terbesar karena mencakup beberapa unsur kebahasaan, yaitu fonem, morfem, kata, frasa, klausa, dan paragraf. Kumpulan beberapa fonem akan menjadi morfem, selanjutnya kumpulan dari beberapa morfem membentuk sebuah kata, gabungan dari dua kata atau lebih menjadi frase kemudian menjadi sebuah klausa, klausa membentuk sebuah kalimat dan kumpulan beberapa kalimat akan membentuk sebuah wacana. 

Kedudukan Wacana dalam Linguistik
       Dilihatdari kedudukan dalam linguistik wacana merupakan wujud pemakaian bahasa yang melampaui tataran kalimat dalam kaitannya dengan hal ini kalimat-kalimat adalah komponen konstruksi wacana. Dari sudut keutuhannya, wacana adalah satuan lingual terlengkap dan merupan perwujudan pemakaian bahasa yang utuh. Wacana dapat dikatakan sebagai konstruksi kebahasaan yang dibangung atas dasar tenunan atau jaringan kalimat-kalimat sebagai komponen-komponen (Bell 1976:203).

PENUTUP
Simpulan,wacana merupakan satuan bahasa yang terlengkap dan berbesar/tertinggi di atas kalimat dan klausa dengan koherensi dan kohesi yang berkesinambungan yang mempunyai awal dan akhir yang nyata disampaikan secara lisan atau tulisan. Dan kedudukan wacana dalam linguistic sebagai satuan lingual terlengkap dan merupan perwujudan pemakaian bahasa yang utuh.

CONTOH
         perkuliahan memerlukan perhatian dan daya simak mahasiswa untuk menangkap inti perkuliahan yang diujarkan dosen.Karena konsentrasi dan daya simak seseorang tidak dapat bertahan terus menerus dalam waktu yang lama,maka perkuliahan menggunakan juga alat untuk wacana tulis agar inti materi perkuliahan dapat diingat oleh mahasiswa
Sumber:Tarigan,Henry,Guntur.Pengajaran Wacana.2009.Bandung:Angkasa

Selasa, 24 Januari 2017

afiksasi

Pengertian Proses Morfologi

Proses morfologi adalah penyusunan dari komponen –komponen kecil menjadi menjadi bentuk yang lebih besar berupa kata kompleks. Proses pembentukan kata-kata dari satuan lain yang merupakan bentuk dasarnya.Adapun pengertian proses morfologi menurut berbagai sumber, yaitu :

ü  Proses morfologik adalah proses pembentukan kata-kata dari satuan lain yang merupakan bentuk dasarnya. (Prof. Drs. M. Ramlan, 2009:51)
ü  Proses morfologis ialah cara pembentukan kata-kata dengan menghubungkan morfem yang satu dengan morfem yang lain. (Samsuri, 1987:190)
ü  Proses Morfologi pada dasarnya adalah proses pembentukan kata dari sebuah bentuk dasar melalui pembubuhan afiks (dalam proses afiksasi), pengulangan (dalam proses reduplikasi), penggabungan (dalam proses komposisi). (Abdul Chaer, 2008: 25)

Bahasa-bahasa di dunia memiliki cara-cara tersendiri dalam proses pembentukan katanya sehingga proses morfologis tidak bisa ditemukan dalam setiap bahasa. bahasa indonesia adalah termasuk dari salah satu bahasa Austronesia yang didominasi oleh pembentukan kata melalui afiksasi. Tugas morfologi adalah menyusun morfem menjadi kata atau menguraikan kata menjadi morfem.

Proses Pembubuhan Afiks

Proses morfologis yang sering dijumpai ialah afiksasi, yaitu penggabungan akar atau pokok dengan afiks. Afiksasi adalah proses pembentukan kata yang dilakukan dengan cara membubuhkan morfem terikat berupa afiks pada bentuk dasar. Dalam proses pembubuhan afiks, bentuk dasar merupakan salah satu dari unsur yang bukan afiks. Afiks merupakan satuan gramatik terikat yang di dalam suatu kata merupakan unsur yang bukan kata dan bukan pokok kata, yang memiliki kesanggupan melekat pada satuan-satuan lain untuk membentuk kata atau pokok kata baru.Afiks itu ada empat macam, yaitu prefiks (awalan), infiks (sisipan), sufiks (akhiran), dan konfiks (gabungan awalan dan akhiran).

1. Prefiks (awalan)

Prefiksasi adalah proses pembubuhan afiks (morfem terikat) yang dapat dilakukan di depan bentuk dasar. Jenis prefiks (awalan) antara lain : ber-, se-, me-, ter-, di-, dll.

Contoh : ber + main = bermain
               di + makan = dimakan
               ter + tawa = tertawa

2. Infiks (sisipan)

Infiksasi adalah proses pembubuhan afiks di tengah bentuk dasar. Penulisan afiks ini ditulis serangkai dengan kata dasarnya sebagai satu kesatuan. Jenis infiks (sisipan) antara lain : -em-, -el-, -er,d an -in-.

Contoh : getar = g + em+ etar
              gigi     = g + er + igi
              kerja  = k +in +erja

3. Sufiks (akhiran)

Sufiksasi adalah proses pembubuhan afiks di akhir bentuk dasar. Penulisan afiks ini ditulis serangkaian dengan kata dasarnya, sebagai satu kesatuan. Jenis sufiks (akhiran) antara lain:-an, -i, -kan, -nya ,dll.

Contoh : cuci + an = cucian
       baca + kan = bacakan
       turun + nya = turunnya
       warna + i = warnai

4. Konfiksasi adalah proses pembubuhan afiks di awal dan akhir bentuk dasar secara bersamaan. Konfiks yang terdiri dari dua unsur. Satu dimuka bentuk dasar dan satu di belakang bentuk dasar. Jenis konfiks antara lain : ber – an, ke – an, me – kan,, per – an, dll.

Contoh : me + laku + kan = melakukan
               ber + pakai + an = berpakaian
               ke + hujan + an = kehujanan

Afiksasi adalah salah satu proses dalam pembentukan kata turunan baik berkategori verba, berkategori nomina, maupun yang berkategori ajektiva. Macam-macam afiksasi :

1.      AFIKSASI PEMBENTUKAN VERBA

Afiks - afiks pembentukan verba adalah:

  1. prefiks ber-
  2. klofiks ber-kan
  3. sufiks –kan
  4. konfiks per-kan, Dll.
Verba Berprefiks ber- Bentuk dasar dalam pembentukan verba dengan prefiks ber- dapat berupa :

  1. Morfem dasar terikat, seperti :  tempur – bertempur, juang – berjuang.
  2. Morfem dasar bebas, seperti : ladang – berladang, ternak – beternak.
  3. Bentuk turunan berafiks, seperti terdapat pada kata berpakaian (bentuk dasarnya pakaian), beraturan (bentuk dasarnya aturan), berkekuatan (bentuk dasarnya kekuatan), berkebangsaan (bentuk dasarnya kebangsaan),
  4. Bentuk turunan reduplikasi, seperti terdapat pada kata berlari (bentuk dasar lari-lari), berkeluh-kesah (bentuk dasar keluh-kesah) dan berilmu-pengetahuan (bentuk dasar ilmu-pengetahuan).
  5. Bentuk turunan hasil komposisi, seperti terdapat pada kataberjual beli (bentuk dasar jual- beli), bertemu muka (bentuk dasar temu- muka), dan bergunung api (bentuk dasar gunung- api).
2.      Verba Berklofiks Ber-kan

Verba berkofiks ber-kan dibentuk dengan proses, mula-mula pada bentuk dasar diimbuhkan prefiks ber-, lalu diimbuhkan pula sufiks–kan. Misalnya mula-mula pada kata dasar senjata di imbuhkan prefiks ber-menjadi bersenjata, lalu pada kata bersenjata di imbuhkan pula sufiks –kan sehingga menjadi bersenjatakan.

3.      Verba Bersufiks –kan

Dalam prosesnya, sufiks –kan, bila diimbuhkan pada dasar yang memiliki komponen makna (+ tindakan) dan (+ sasaran) akan membentuk verba bitransitif, yaitu verba yang berobjek dua. Bila diimbuhkan pada dasar yang lain, sufiks –kan akan membentuk pangkal (stem) yang menjadi dasar dalam pembentukan verba inflektif.

Verba bersufiks –kan digunakan dalam :

  1. kalimat imperatif. Contoh:
-  lemparkan bola itu ke sini !
-  tuliskan namamu di sini !
-  gunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar !

  1. kalimat pasif yang predikatnya berpola : (aspek) + pelaku + verba, dan subjeknya menjadi sasaran tindakan. Contoh :
-  rumah itu baru kami dirikan.
-  jembatan itu akan mereka robohkan.
-  tugas itu belum saya laksanakan.

  1. keterangan tambahan pada subjek atau objek yang berpola : yang + (aspek) + pelaku + verba. Contoh :
-  uang yang baru kami terima sudah habis lagi.
-  kami melewati daerah yang sudah mereka amankan.

Verba bersufiks –kan memiliki makna gramatikal :

  1. jadikan.
  2. jadikan berada di.
  3. lakukan untuk orang lain.
  4. lakukan akan.
  5. bawa masuk ke.
Verba Berkonfiks per- kan

Verba berkonfiks per- kan adalah verba yang bisa menjadi pangkal dalam pembentukan verba inflektif (berprefiks me-, berprefiks di-, atau berprefiks ter-). Verba berkonfiks per- kan digunakan dalam :

  1. Kalimat imperatif.
Misalnya :
-  persiapkan dulu bahan-bahannya!
-  jangan perdebatkan lagi masalah itu!
-  jangan persamakan saya dengan dia!

  1. Kalimat pasif yang predikatnya berpola : (aspek) + pelaku + verba.
            Contoh:
-  anakitu akan kita pertemukandengan orang tua angkatnya.
-  masalah itu akan kami pertanyakan lagi.
-  usulmu itu akan kami pertimbangkan.

  1. Keterangan tambahan pada subjek atau objek yang berpola : yang + (aspek) + pelaku + verba.
Contoh :
-  tarian yang sudah mereka pertunjukkan akan diulang lagi.
-  film yang mereka hendak persembahkan perlu disensor dulu.
-  kami menyenangi lagu-lagu yang telah mereka perdengarkan.

Verba berkonfiks per- kan memiliki makna gramatikal :

  1. Jadikan bahan (per- kan).
  2. Lakukan supaya.
  3. Jadikan me-.
  4. Jadikan ber-.

 AFIKSASI PEMBENTUKAN NOMINA

Pembentukan dengan afiksasi ini ada yang di bentuk langsung dari akar, tetapi sebagaian besar di bentuk dari akar melalui kelas verba dari akar itu. Yang dibentuk langsung dari akar adalah nomina turunan berkonfiks ke- an, seperti kepandaian yang bermakna ‘hal pandai’ dan  kepartaian yang bermakna ‘hal partai. Sedangkan contoh yang di bentuk dari akar melalui verba dari akar itu adalah pembaca yang bermakna gramatikal “yang membaca”, pembacaan yang bermakna  gramatikal “hasil membaca” atau “yang dibaca”.

Afiks Pembentukan Nomina :

  1. Prefiks ke-
  2. Konfiks ke- an
  3. Sufiks –an
  4. Infiks –el, -em, dan –er
  5. Sufiks dari bahasa asing.
AFIKS PEMBENTUKAN AJEKTIFA

1.            Dasar ajektiva berprefiks se- Contoh sepintar A, sama dengan sama pintar dengan A
2.            Dasar ajektiva berkonfiks ke- an Contoh : kebiruan sama dengan agak biru
3.            Dasar ajektiva berklofiks me- I Contoh : menghormati sama dengan merasa hormat.


MORFOFONEMIK















MORFOFONEMIK

Abdul Chaer (2007:194) mengemukakan bahwa morfofonemik adalah peristiwa berubahnya wujud morfemis dalam suatu proses morfologis, baik afiksasi, reduplikasi, maupun komposisi. Kridalaksana (2007:183) berpendapat bahwa morfofonemik adalah subsistem yang menghubungkan morfologi dan fonologi. Didalamnya dipelajari bagaimana morfem di realisasikan dalam tingkat fonologi. Ramlan (dalam Tarigan, 1995:27) mengemukakan bahwa morfofonemik mempelajari perubahan-perubahan fonem yang timbul sebagai akibat pertemuan morfem satu dengan morfem lain. Jadi, morfofonemik atau morfonologi atau morfofonologi, adalah kajian mengenai terjadinya perubahan bunyi atau fonem sebagai akibat dari adanya suatu  proses morfologi, baik proses afiksasi, reduplikasi, maupun komposisi.

A. Jenis Perubahan

1.      Pemunculan Fonem        
  
Munculnya fonem (bunyi) dalam proses morfologi yang pada mulanya tidak ada. Misalnya, pada proses prefiks me- Me- + kata dasarbacamuncul bunyi sengau [m] yang semula tidak ada menjadimembaca.

2.      Pelepasan Fonem
Hilangnya fonem dalam suatu proses morfologi. ber + renang menjadi berenang.

3.      Peluluhan Fonem
Luluhnya sebuah fonem serta disenyawakan dengan fonem lain. pe + sikat = penyikat.

4.      Perubahan Fonem
Berubahnya sebuah fonem sebagai akibat terjadinya proses morfologi. ber + ajar = belajar

5.      Pergeseran Fonem
Berubahnya posisi sebuah fonem dari satu suku ke suku lainnya. Lompat + ime, lom, pa, ti (Abdul Chaer, 2008 :43-45)


B.  Morfofonemik Pembentukan Kata Bahasa Indonesia

Pembentukan kata Bahasa Indonesia terutama terjadi dalam proses afiksasi. Dalam proses reduplikasidan komposisi hampir tidak ada. Dalam proses afiksasi hanya ada dalam prefiks ber-, me-, pe-, per-, konfiksasi per- an, dan sufiksasi –an.

1.      Prefiksasi ber-

  1. Pelepasan fonem /r/ pada prefiks ber- terjadi apa bila bentuk dasar mulai dengan fonem /r/, atau suku pertama bentuk dasarnya berbunyi [er]. Misalnya, ber + kerja, bekerja.
  2. Perubahan fonem /r/ pada prefiks ber- menjadi fonem /l/ terjadi bila bentuk dasarnya akar ajar. ber + ajar, belajar.
  3. Pengekalan fonem /r/ pada prefiks ber- tetap /r/ terjadi apabila bentuk dasarnya bukan yang ada pada a dan b di atas. ber + korban, berkorban.
2.      Prefiksasi me- (termasuk klofiks me- kan dan me- i)

  1. Pengekalan fonem, yakni tidak ada fonemyang berubah, tidak ada yang dilepaskan dan ditambahkan. Bentuk dasar diawali dengan konsonan /r, l, w, y, m, n,ng, dan ny/. Me + rawatmerawat
  2. Penambahan fonem, yakni penambahan fonem nasal /m, n, ng, dan nge/. Penambahan nasal /m/ terjadi apabila bentuk dasarnya dimulai dengan konsonan /b/ dan /f/. me + fitnahmem fitnah.Penambahan fonem nasal /n/ terjadi apabila bentuk dasarnya dimulai dengan konsonan /d/.me + dapatmendapat.Penambahan fonem nasal /ng/ terjadi apabila bentuk dasarnya dimulai dengan kosonan /g, h, kh, a, l,u, e, dan o/.
  3. Peluluhan fonem, apabila prefiks pe- atau pe- an diimbuhkan pada bentuk dasar yang diawali dengan konsonan bersuara /s/ diluluhkan dengan nasal /ny/, konsonan /k/ diluluhkan dengan nasal /ng/, konsonan /p/ diluluhkan dengan nasal /m/, dan konsonan /t/ diluluhkan dengan nasal /n/.me + potong, memotong.
3.     Prefiksasi pe- dan konfiksasi pe- an.a.Pengekalan fonem, /r, l, w, y, m, n, ng, dan ny/. Pe  + rawat, perawat, Perawatan

  1. Penambahan fonem, yaitu penanmbahan fonem masal /m, n, ng, dan nge/ antara prefiks dan bentuk dasar. Pe + baca, pembaca, Pembacaan
  2. Peluluhan fonem, apabila prefiks pe- di imbuhkan pada bentuk dasar yang diawali dengan konsonan /s, k,p, t/. Pe + kirim, pengirim, pengiriman,



4.      Prefiksasi per- dan konfiksasi per- an.
  1. Pelepasan fonem /r/ terjadi apabila bentuk dasarnya dimulai dengan fonem /r/, atau suku pertamanya /er/. per + ringan, peringan. per + kerja, pekerja.
  2. Perubahan fonem /r/ menjadi /l/ terjadi apabila bentuk dasarnya berupa kata ajar. per + ajar, pelajar.
  3. Pengekalan fonem /r/ terjadi apabila bentuk dasarnya bukan yang disebutkan pada a dan b di atas. per + kecil, perkecil. per + lambat, perlambat.

5.      Sufiksasi –an.
  1. Pemunculan fonem
  1. Pemuculan fonem /w/ dapat terjadi apabila sufiks–an itu diimbuhkan pada bentuk dasar yang berakhir dengan vocal /u/. temu + an, temuwan. Dalam sistem ejaan sekarang bunyi /w/ itu tidak dituliskan. Dalam literatur lain bunyi /w/ disebut bunyi pelancar (glider).
  2. Pemunculan fonem /y/ dapat terjadi apabila sufiks –an diimbuhkan pada bentuk dasar yang berakhir dengan vokal /i/. tari + an, tarian. Bunyi ini juga disebut bunyi pelancar.
  3. Pemunculan fonem glottal /?/ dapat terjadi apabila sufiks –an itu diimbuhkan pada bentuk dasar yang berakhiran vokal /a/. (ber) dua + an (ber) dua?an.
Pergeseran fonem Apabila sufiks –an itu diimbuhkan pada bentuk dasar yang berakhir dengan sebuah konsonan. Konsonan tersebut bergeser membentuk suku kata baru dengan sufiks –an tersebut. jawab + an, jawaban.
6.      Prefiksasi ter-
  1. Pelapasan fonem dapat terjadi apabila prefiks ter- itu diimbuhkan pada bentuk dasar yang dimulai dengan konsonan /r/.ter + asa, terasa.
  2. Perubahan fonem /r/ pada prefiks ter- menjadi fonem /l/ terjadi apabila prefiks ter- itu diimbuhkan pada bentuk dasar anjur. ter + anjur, terlanjur.
  3. Pengekalan fonem /r/ pada prefiks ter- tetap menjadi /r/ apabila prefiks ter- itu diimbuhkan pada bentuk dasar yang bukan disebutkan pada a dan b di atas. ter + dengar, terdengar. ter + jauh, terjauh. (Abdul Chaer, 2008 :46-55)



Bentuk nasal dan tak bernasal

Hadir atau tidaknya bunyi nasal berkaitan erat dengan :
  1. Kaitan dengan tipe verba Dalam Bahasa Indonesia ada 4 macam tipe verba yang berkaitan dengan proses nasalisasi. Kaidah penasalan untuk verba berprefiks me- (dengan nominape- dan nomina pe- an) yang diturunkan adalah sebagai berikut. Afiks Nasal Fonem awal bentuk dasar me- me- kanme- i
1.      ¢
2.      M
3.      N
4.      Ny
5.      Ngl, r, w,y, m, n, ny, ngb, p, fd, ts, c, jk, g, h, kh, a, l, u, e, o
6.      dilihat bahwa dalam proses pengimbuhan afiks me-, me-kan, me-i akan terjadi.


  1. Kaitan dengan upaya pembentukan istilah Dalam peristilah olahraga sudah ada istilah petinju (yang diturunkan dari verba bertinju) sebagai suatu profesi, yang berbeda dengan bentuk peninju(yang diturunkan dari verba meninju) yang bukan profesi.
  2. Kaitan dengan upaya semantikUntuk member makna tertentu bentuk yang seharusnya tidak bernasal diberi nasal. Misalnya, bentuk mengkaji dalam arti meneliti dibedakan dengan mengaji yang berarti membaca Al Qur’an. Sementara itu, tanpa perbedaan semantik pasangan kata dengan peluluhan fonem awal bentuk dasar dan dengan yang tanpa peluluhan lazim digunakan secara bersaingan. Mensetir menyetir Mengkonsumsi mengonsumsi (Abdul Chaer, 2008 :56-62)